SEMINAR WOMEN TRAFFICKING

1). Manfaat

Kita lebih di ajarkan untuk dapat melihat atau memandang sebelah mata terhadap orang-orang korban women trafficking. Karena seperti yang kita ketahui ternyata banyak dari anak- anak usia remaja yang ditipu oleh para calo yang sudah mencari korbanya di daerah perkampungan dengan di iming-imingi gaji yang besar.

Kemudian kita juga diajarkan agar berhati-hati terhadap penipuan yang dapat menimpa semua wanita bahkan bayi di usia dini. Dikarenakan women trafficking terjadi dengan orang-orang yang kita kenal.

2). Informasi Penting

Seminar Women Trafficking diadakan pada tanggal 23 Juni 2009, bertempat di Prof. Djajusman Auditorium and Performance Hall – Kampus B STIKOM LSPR. Seminar ini dipandu oleh Dea Pranatania (penyiar Mustang FM) sebagai moderator. Selain itu, dihadiri juga oleh Nia Dinata (sutradara), Mariana Amirudin (Excecutive Director from Journal Perempuan), dan Rika Anggraeni (dari Body Shop) sebagai narasumber.

Sesi pertama diawali dengan pemutaran film ‘perempuan punya cerita’ karya Nia Dinata, diangkat dari kisah yang sering terjadi di indonesia. Anak perempuan bernama Maesaroh yang menjadi korban penjualan perempuan ke agen ilegal bernama Mansur. Keluarga Maesaroh berasal dari keluarga kecil. Ia tinggal bersama ibu dan tantenya. Tantenya bekerja sebagai penyanyi di sebuah klub malam.

Suatu hari ketika Maesaroh dan tantenya sedang berbelanja, mereka bertemu dengan Mansur, dan tantenya Maesaoh yang mengenal Mansur sebagai agen meminta Mansur untuk mencarikannya pekerjaan di Jakarta. Namun Mansur malah menawarkan pekerjaan kepada Maesaroh yang masih duduk di bangku SMP. Karena diiming-imingi gaji yang lumayan, Tantenya Maesaroh membujuk dan menghasut Maesaroh agar menerima kerjaan dari Mansur.

Sebenarnya ibunya Maesaroh tidak mengizinkan anaknya untuk bekerja, namun karena hasutan tantenya, Maesaroh memutuskan untuk pergi berdua dengan tantenya ke tempat Mansur, untuk kemudian dibawa pergi oleh Mansur. Ternyata Mansur tidak memberi mereka pekerjaan, namun malah menjual Maesaroh ke kota besar.

Pada kenyataannya, kejadian seperti ini benar-benar sering terjadi di Indonesia. Biasanya korban berasal dari kampung kecil. Rata – rata anak perempuan di kampung hanya lulusan SD dan tidak punya kemampuan khusus, sehingga tidak ada pilihan yang lebih menggiurkan ketika ada tawaran untuk kerja ke kota besar. Mereka akan terjebak dan menjadi korban penjualan wanita oleh agen-agen yang tidak bertanggung jawab. Daerah tujuan penjualannya adalah ke tempat – tempat yang banyak expatriatnya, seperti Batam, Jakarta dan Bali.

Praktek penjualan wanita ini sudah marak terjadi di Indonesia. Harga yang dipatok untuk setiap wanita beragam. Contohnya, perawan berumur 19 tahun dijual hanya 1 juta rupiah.

Saat sesi tanya jawab, ada tiga peserta seminar yang mengajukan pertanyaan, salah satunya ialah Putri dari kelas MC 11-10 B. Putri bertanya tentang dimana peran polri dalam pembebasan korban trafficking? Kemudian Mariana menjelaskan bahwa pada tahun 2003 belum ada undang – undang mengenai trafficking . Tetapi sekarang sudah ada undang – undang yang bisa memudahkan pembebasan korban.

Selanjutnya Winda dari PR 11 bertanya mengenai ada atau tidak adanya penelitian tentang orang – orang luar yang melakukan kekerasan kepada korban trafficking? Dan Mariana menjelaskan bahwa kebanyakan karena tkw Indonesia tidak dibekali skill yang memadai, sehingga majikannya sering marah karena mendapat pekerja yang tidak punya skill padahal mereka telah membayar sejumlah uang.

Pada sesi selanjutnya, terdapat 13 nominasi untuk kompetisi TV Commercial. Selain itu juga terdapat 10 nominasi untuk nominasi Public Service Advertising.

3). Kritik dan Saran

Sejauh ini talk show tentang woman trafficking ini sangat menarik dan jalannya acara pun saat baik dari mulai diawal sampai diakhir acara. Karena ada perputaran video dan iklan anti women not for sale.

Penyuluhan atau seminar seperti ini seharusnya dilakukan sesering mungkin. Agar para perempuan lebih berhati-hati dalam menerima tawaran pekerjaan dari orang yang belum dikenal dekat.

Selain itu, peran pemerintah juga sangat besar dalam menanggulangi masalah ini. Pemerintah seharusnya dapat memberantas apa lagi menyelesaikan permasalahan ini agar wanita Indonesia bisa lebih dihargai dimata luar negeri.

0 komentar:

Poskan Komentar