Munas Partai Golkar

catatan berikut saya buat untuk memenuhi tugas Media Relation, dengan mengamati peristiwa plitik Munas Partai Golkar, pada semster 5.

Munas Partai Golkar

Munas Golkar atau Musyawarah Nasional Partai Golkar yang bertujuan untuk memilih ketua umum partai Golkar haruslah menjadi sebuah momentum menuju perubahan ke arah kebaiakan baik bagi internal partai Golkar maupun bagi eksternal dan demi kepentingan negara. Munas Golkar VIII rencananya akan diselenggarakan di hotel Labersa Pekanbaru, Riau yang dibuka pada Senin malam tanggal 5 Oktober 2009 dan di tutup tanggal 8 oktober 2009 malam.

Pemilihan ketua umum partai Golkar pada Munas nanti, selayaknya sebuah partai besar sudah dipersiapkan dengan sangat matang. Penjagaan ketat dan fasilitas nomor satu pun di sediakan untuk kelancaran Munas. Ketua Panitia Pelaksana Pusat Munas Partai Golkar Fatommy Asaari bekerja keras demi melaksanakan Munas yang berlokasi di luar Jakarta, melainkan di provinsi yang telah di setujui yaitu Riau.

Persiapan matang tersebut bukan atas dasar sembarangan, kerena Munas Golkar akan dihadiri banyak tokoh penting nasional baik yang mewakili dewan pimpinan daerah (DPD) untuk memberikan suara maupun yang maju menjadi kandidat ketua umum untuk menggantikan ketua umum saat ini, Jusuf Kala. Jumlah peserta yang akan menghadiri Muna diperkirakan dua ribu peserta.

Mengenai tata tertib munas dan tata tertib pemilihan ketua umum, diputuskan bahwa semua peserta , baik DPP, ormas, DPD I, dan DPD II masing-masing memiliki satu hak suara di munas. Jadi, tidak ada pengelompokan suara. Jumlah suara yang akan diperebutkan di munas kali ini sebanyak 536 suara. Rinciannya, 492 DPD II, 33 DPD I, 10 ormas, dan 1 DPP. Setiap kader yang ingin mencalonkan diri sebagai ketua umum harus mendaftarkan diri kepada pimpinan munas dan melengkapi persyaratan yang diatur dalam AD/ART partai. Kandidat harus mendapat dukungan minimal 30 persen suara dari peserta munas.

Penggantian ketua umum bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan pribadi yang kuat dan pemimpin yang tangguh. Maka dari itu syarat menjadi kandidat ketua umum pun tidak sembarangan. Persyaratan menjadi ketua umum Golkar dirangkum dalam lima hal. Pertama, punya solusi untuk menghentikan keterpurukan. Kedua, punya “platform” atau paradigma baru untuk mengubah sistem kenegaraan dari otoriter menjadi demokrasi. Sistem yang menjamin kedaulatan rakyat tidak menjadi mainan dan dagang sapi. Ketiga, punya keberanian lebih, termasuk berani berbuat salah sekalipun untuk menghadirkan kebenaran karena selama ini terbelenggu sistem hukum yang ada. Keempat, punya integritas pribadi yang tinggi yang telah dibuktikan melalui proses hukum nasional maupun internasional yang berlaku. Dan kelima, sosok yang tidak bermasalah atau bagian masalah yang sedang dihadapi bangsa sehingga Partai Golkar tidak terbawa dalam keruwetan masalah pribadi yang akan menghancurkan partai.

Kandidat ketua umum Golkar yang maju dan menganggap memenuhi lima persyaratan ada empat, yaitu Aburizal Bakrie, Surya Paloh, Hutomo Mandala Putra dan Yuddy Chrisnandi.

Kandidat pertama adalah Aburizal Bakrie. Selain sebagai pengusaha, politisi Golkar ini kini dirotasi dari Menko Perekonomian menjadi Menko Kesra pada resuffle Kabinet Indonesia Bersatu oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Aburizal dulunya juga sempat menjadi Ketua Umum Kadin (Kamar Dagang dan Industri) Indonesia sebelum diangkat menjadi Menko Perekonomian Kabinet Indonesia Bersatu, dan sempat menjadi salah satu kandidat calon presiden yang memenangi lima besar dalam Konvensi Partai Golkar.

Jabatan Ketua Umum Kadin Indonesia yang dipangkunya sejak 1994, telah mengantarnya untuk berkutat pada persoalan-persoalan nasional yang lebih besar daripada persoalan-persoalan yang dialami perusahaannya sendiri. Putera sulung pengusaha H Achmad Bakrie kelahiran Jakarta 15 November 1946 ini meski sesibuk apa pun, ternyata masih sempat menikmati hobinya yaitu menyanyi dan olahraga. Tentang olahraga, alumni jurusan elektro ITB tahun 1973 ini benar-benar disiplin melakukannya. Tiga jam setiap hari. Dia juga tidak merokok.

Aburizal Bakrie berkibar dengan perusahaan yang dirintis keluarganya, PT Bakrie Brothers Tbk, sejak 1942. Jabatan di Bakrie Brothers yang pernah dipegang, antara lain, direktur utama PT Bakrie Nusantara Corporation pada 1989-1992, Dirut PT Bakrie & Brothers 1988-1992, dan komisaris utama Kelompok Usaha Bakrie pada 1999-2004. Ical juga aktif di organisasi. Periode 2000-2005, dia menjadi anggota Dewan Pakar ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim se-Indonesia); 1999-2004, menjadi ketua umum Kadin (Kamar Dagang dan Industri Indonesia) periode II; 1996-1998, menjabat presiden Asean Chamber of Commerce & Industry; dan 1993-1998, anggota Majelis Pemusyawaratan Rakyat (MPR)-periode II. Masih banyak organisasi-organisasi lainnya yang pernah diikuti Ical. Selain itu Ical juga telah menerima beberapa penghargaan bergengsi, seperti Penghargaan “ASEAN Business Person of the Year” dari the ASEAN Business Forum pada tahun 1997; Pengharagaan “Businessman of the Year” dari Harian Republika pada tahun 1995; dan Penghargaan “The Outstanding Young People of the World” dari the Junior Chamber of Commerce pada tahun 1986.

Kandidat ketua umum Golkar kedua adalah Surya Paloh, yang dikenal mempunyai idealisme untuk menegakkan nilai-nilai demokrasi dalam bingkai wawasan kebebasan pers. Sebagai seorang yang terjun dalam dunia pers sebagai publisher, Surya menyadari kebebasan pers bukanlah kebebasan absolut tanpa nilai. Kebebasan pers harus diwujudkan sebagai sikap kritis yang rasional, proporsional, dan profesional tanpa membenci atau memusuhi pihak manapun.

Sepak terjang Surya Paloh, antara lain sebagai Ketua BPP Hipmi Pusat tahu 1977-1979, mendirikan FKPPI tahun 1978, Ketua Umum PP-FKPPI tahun 1979-1981 dan tahun 1981-1983, Anggota Dewan Pertimbangan DPP Pepabri tahun 1982-1984, Ketua DPP AMPI tahun 1984-1989, Ketua Dewan Pertimbangan PP-FKPPI tahun 1984-1987, Ketua Dewan Kehormatan BPP Hipmi tahun 1984-1987, Anggota Dewan Pembina DPP AMPI tahun 1989 sampai sekarang, Pengurus PB Gabsi tahun 1998 hingga sekarang, Anggota Dewan Pers tahun 1999 sampai sekarang, dan Ketua SPS Pusat tahun 1999 hinggga sekarang. Di kelembagaan legislatif, Surya pada tahun 1971 tercatat sebagai Calon Anggota DPRD Tingkat II Medan dari Golkar, lalu sebagai Anggota MPR pada tahun 1977-1982 dan kembali menjadi Anggota MPR tahun 1982-1987. Terakhir, pada tahun 1987 sebagai Calon Anggota MPR/DPR RI dari Golkar namun urung dilantik setelah Prioritas koran miliknya dibredel. Pembredelan inilah puncak sekaligus awal kontroversi politik Surya, yang membawanya ke sebuah vonis kematian perdata dan hak-hak politik dalam waktu lama sampai terbetik gagasan memunculkan Konvensi Presiden Partai Golkar. Sebagai salah satu pencetus gagasan konvensi Surya lalu membangunkan sendiri dirinya untuk ikut bertarung sebagai salah seorang kandidat calon presiden dari Partai Golkar.

Sepak terjangnya dalam pentas politik nasional sebagai kader Golkar dimulai dari bawah. Sehingga dia merasakan betul arti sebuah perjuangan dan keberhasilan. Keberhasilannya dalam dunia bisnis, misalnya, terlihat di PT Indocater yang merupakan perusahaan katering terbesar dan terbaik di Indonesia dengan 4.000-an karyawan. Setelah membangun usaha di tahun 1975 dengan bendera PT Ika Mataram Coy, baru berselang empat tahun kemudian dia membeli penuh saham PT Indocater yang lalu diangkatnya menjadi mesin pencetak uang yang menguntungkan. Surya sebagai pengusaha sukses, kini sudah mempunyai aset dalam hitungan trilyun rupiah. Rekaman sepakterjang bisnisnya di Jakarta mencatat deretan cukup panjang. Intinya antara lain adalah, Metro TV, Media Indonesia, Lampung Pos, Intercontinental Hotel Jimbaran, Sheraton Media Hotel Jakarta, Papandayan Hotel Bandung, Sun Plaza Medan, Indocater, dan sejumlah perusahaan marmer, kabel, komputer dengan jumlah karyawan 15.000 orang.

Kandidat ketua umum Golkar ketiga adalah putera bungsu mantan Presiden Soeharto, yaitu Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto. Mungkin diantara kandidat ketua umum Golkar yang lain, track record Tommy adalah yang paling buruk. Dari tahun 2002 hingga 2006, ia dipenjara atas merencanakan pembunuhan terhadap Hakim Agung Syafiuddin Kartasasmita pada 26 Juli 2001, kepemilikan senjata api dan amunisi, dan sengaja melarikan diri.

Tommy ditangkap pada November 2001 dan mulai menjalani hukumannya sejak 16 Agustus 2002. Awalnya Tommy mendekam di Lembaga Permasyarakatan (LP) Batu, Nusakambangan, namun sejak 3 April 2006, ia dipindahkan ke Lembaga Permasyarakatan Narkotika Cipinang.

Pada Juni 2005, Mahkamah Agung meringankan hukuman Tommy dari 15 tahun menjadi 10 tahun. Sejak divonis pada tahun 2002 hingga November 2005, Tommy juga telah mendapatkan remisi sebanyak enam kali, yang jika ditotal berjumlah 20 bulan, termasuk remisi lima bulan pada peringatan Kemerdekaan Indonesia dan 6 minggu pada perayaan Idul Fitri pada tahun 2006. Dengan potongan itu, Tommy yang seharusnya bebas pada 2011, keluar dari penjara pada Oktober 2008.

Ia dibebaskan bersyarat pada 30 Oktober 2006 dan diharuskan untuk mengikuti pengawasan dan pembinaan di Balai Pemasyarakatan (Bapas) Salemba hingga masa hukumannya berakhir.

Kandidat ketua umum terakhir adalah perwakilan dari golongan muda, Yuddy Chrisnandi. Laki-laki yang lahir 41 tahun yang lalu kini tengah menempuh pendidikan S3 Ilmu Politik Universitas Indonesia sejak tahun 2001. Riwayat pekerjaannya yaitu pernah bekerja di Bank Bukopin pada tahun 1991 -1992; Bank Bumidaya pada tahun 1992 – 1994; BPPN pada tahun 1998 – 2000. kemudian ia menjadi Pengusaha, dengan menjabat Dirut PT. KVA, PT. CPN pada tahun 1997 – 2004. selain itu, Yuddy juga menjadi dosen pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Nasional dan dosen PPS Ilmu Politik UI.

Sementara itu, sepak terjangnya dalam lembaga pemerintahan mencakup Staf Ahli Kapolri pada tahun 1998 – 2001; Anggota MPR RI pada tahun 1998 – 1999; serta menjadi Staf Khusus Wapres pada tahun 2001 – 2003. pengalamannya berorganisasi pun cukup banyak, antara lain menjadi DPP Golkar, Departemen Hukum dan HAM; DPP Golkar, Departemen Pemuda; Dewan Pakar KAHMI; dan Ketua Bidang Litbang Lemkari.

Yuddy Chrisnandi, dinilai cocok memimpin Golkar periode 2009 – 2014, karena banyak orang yang memprediksikannya dapat memperbaiki Partai Golkar dimasa mendatang. Partai besar setingkat Golkar sangat perlu melakukan regenerasi, dan sedikit-sedikit mulai meminimalisasi faktor konservasi yang lekat dengan Golkar supaya menjadi lebih baik di masa mendatang.

Menjadi kandidat ketua umum Golkar juga mendongkrak publisitas Yuddy sehingga tidak kalah dengan kandidat lainnya. Sejauh ini dirinya banyak diberitakan di sejumlah media online, seperti jawapost, detikyogyakarta.net, kompas.com, okezone.com.

Diperkirakan dua kandidat utama yang akan bersaing dalam perebutan suara adalah Surya Paloh dan Aburizal Bakrie. Persaingan terasa kentara lantaran masing-maing kandidat di dukung media televisi miliknya sendiri, seperti MetroTV milik Surya Paloh dan TVone milik Aburizal. Penonton seperti disuguhkan persaingan antara dua stasiun tv swasta tersebut. Satu sama lain saling menyerang, hanya saja kasus Lumpur Lapindo yang melibatkan Aburizal Bakrie tentu tidak menguntungkan. Sudah seharusnya Golkar dipimpin oleh orang yang terbebas dari persoalan hukum. Dan dengan bersih dari hukum, Surya Paloh dianggap bisa membuat Golkar berkembang dan memperjuangkan kepentingan rakyat.

Sementara Tommy Soeharto dan tim suksesnya lebih fokus mengikat dukungan DPD I dan DPD II dengan menggelontorkan sejumlah uang, yang disalurkan dalam bentuk kegiatan-kegiatan yang diarahkan pada ekonomi kerakyatan. Mulai pembentukan koperasi untuk rakyat kecil hingga pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan pertanian modern. Dengan sokongan dari kubu Cendana Tommy juga bisa memaksimalkan publisitasnya melalui media, seperti media-media di bawah MNC group.


0 komentar:

Poskan Komentar