Riset Dramaturgis

berikut ini adalah hasil riset saya terhadap pegawai negeri sipil tentang kehidupan mereka, yang di buat untuk memenuhi tugas mata kuliah Method of Communication Research (Qualitative) pada semester 5.

Riset Dramaturgis Pada Pegawai Negeri Sipil (Widyaiswara)

Objek Penelitian

Para pegawai negeri sipil yang menjabat sebagai widyaiswara atau pelatih di kantor Balai Pelatihan Pertanian Cihea, Cianjur. Widyaiwara adalah PNS yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan pengembangan dan pelaksanaan diklat pada lembaga pendidikan dan pelatihan pemerintah.

Diary Sheet

Hari : Jumat

Tanggal : 4 Desember 2009, jam 10.00 WIB

Tempat : Kantor Bapeltan Cihea, jl Terusan Moh Ali, Bojong picung, Cianjur

Pengamatan

Laki-laki setengah baya berumur 46 tahun yang kemudian diketahui bernama Bapak Edi sedang menyampaikan materi di depan para peserta latihannya. Pagi ini jadwalnya mengajar para petani yang sedang mengikuti pelatihan di Bapeltan. Ketika masuk kelas pertama kali ia menyapa seluruh peserta dengan ramah dan tersenyum. Ia juga menanyakan bagaimana kabar mereka. Kemudian ia memulai kelas dengan perkenalan diri yang singkat.

Di depan kelas, ia menyampaikan materi yang bersifat teori. Ia sangat komunikatif. Sering ia menunjukkan bahasa tubuh yang atraktif sambil menyampaikan teori. Malah tidak jarang ia melontarkan humor yang membuat suasana menjadi akrab dan nyaman.

Dari caranya mengajar dengan santai, Bapak Edi kelihatan sangat menikmati pekerjaannya sebagai pelatih. Di depan kelas ia menunjuk-nunjuk pada kanvas yang menampilkan presentasinya dengan gaya resmi. Sesekali ia menulis sesuatu untuk menekankan makna apa yang telah disampaikannya pada whiteboard. Kemudian ia mengajukan beberapa pertanyaan untuk memancing interaksi dari para peserta.

Selama beberapa saat kelas di buka untuk sesi diskusi. Bapak Edi menanggapi dan menjawab pertanyaan satu persatu. Ia kelihatan menguasai bidangnya. Selama mengajar di kelas, Bapak Edi selalu mengulang materi bila ada yang tidak mengerti. Salama satu setengah jam kelas berlangsung, dan Bapak Edi pun membubarkan kelas setelah sebelumnya merangkum semua materi yang telah didiskusikan.

Diary Sheet

Hari : Minggu

Tanggal : 6 Desember 2009, jam 11.00 WIB

Tempat : Kebun milik pribadi Bapak Gunardi Sigit, desa Sukamulya, Cianjur

Pengamatan

Siang itu saya mengikuti kegiatan Bapak Gunardi, salah satu PNS widyaiswara di Bapeltan juga yang sedang berkebun di kebun pribadi miliknya yang cukup luas di daerah Sukamulya. Di akhir pekan, ketika sedang tidak masuk kantor, ia lebih senang menghabiskan waktunya dengan berkebun dan melakukan kegiatan pertanian di kebun sendiri.

Seperti hari ini, Bapak Gun bercakap-cakap dengan penjaga kebunnya sambil mempersiapkan bahan untuk membuat kompos dari sisa-sisa tanaman. Ia tidak segan-segan berdua dengan penjaga kebunnya mengaduk sampah rumput, batang pohon pisang dan kotoran hewan untuk dibuat kompos.

Setelah membuat kompos yang memakan waktu lebih dari satu jam, Bapak Gun kemudian membersihkan diri dan bergabung dengan penjaga kebunnya beserta keluarganya yang telah menyiapkan hidangan makan siang berupa nasi liwet yang disajikan di atas daun pisang. Ia tampaknya tidak sungkan ataupun keberatan menikmati makan siangnya bersama penjaga kebunnya. Dengan lauk pauk sederhana yang terdiri dari tahu tempe goreng, sambal, ikan asin, serta lalapan daun singkong rebus Bapak Gun makan dengan lahapnya. Setelah beres makan siang ia terjun langsung ke sawah untuk memberi pupuk pada sawahnya.

Selain berkebun di kebunnya, ia juga seorang suami yang humoris bagi istrinya dan ayah yang sabar. Di rumah, ia sering bercanda dengan keluarga dan sangat perhatian. Ia lebih dekat dengan anak perempuannya ketimbang dengan anak laki-lakinya.


Diary Sheet

Hari : Rabu

Tanggal : 9 Desember 2009, jam 15.00 WIB

Tempat : Kantor Bapeltan Cihea, jl Terusan Moh Ali, Bojong picung, Cianjur

Pengamatan

Pada menjelang sore hari seperti siang ini, para widyaiswara sudah bisa bersantai-santai di kantornya, sambil menanti apel sore sebelum bubar kantor. Kebanyakan dari mereka berkumpul dan mengobrol bersama, sebagian lagi menonton tv, ada pula yang bermain game di komputer.

Tiga orang laki-laki sedang asyik mengobrol dengan dua orang perempuan dalam ruangan widyaiswara. Mereka mengobrol tentang banyak hal, antara lain mengenai laporan angka kredit yang sudah mendekati deadline, yaitu tanggal 15 Desember 2009. Mereka saling bertanya tentang kelengkapan bukti yang diperlukan untuk menyusun laporan angka kredit. Untuk menyusun laporan angka kredit, dibutuhkan bukti berupa surat tugas dan surat pernyataan telah melakukan tugas. Dan salah seorang dari laki-laki itu ada yang kehilangan surat tugasnya, sehingga ia minta surat tugas temannya yang kebetulan sama-sama ditugaskan waktu itu.

Topik tentang laporan angka kredit sepertinya topik yang paling sering dibahas. Selain tentang itu, mereka juga banyak membicarakan hal lain, seperti tentang kebijakan kepala balai yang dinilai tidak cocok diterapkan untuk widyaiswara, dan juga tentang perkembangan dunia politik, yaitu tentang kasus Bibit – Chandra. Kemudian salah satu dari wanita dalam kelompok itu mengangkat topik mengenai tingkah laku seorang peserta yang aneh-aneh. Teman-temannya pun langsung menyetujui dan sontak tertawa bersama.


Riset Dramaturgis

Front Stage

· Pegawai negeri sipil, widyaiswara

· Usia rata-rata >40 tahun

· Komunikatif, tapi kadang tegas

· Mengajar sesuai keahlian dan hobi

· Moderator yang baik

Middle Stage

· Saling membicarakan tentang laporan angka kredit

· Saling mendiskusikan tentang kebijakan kantor dan para peserta

Back Stage

· Ayah dan suami yang hangat dan humoris

· Hobi berkebun dan bertani

· Membumi, tidak pandang bulu dan bergaul dengan para petani


Kesimpulan

Pegawai negeri sipil yang menjabat sebagai widyaiswara atau pelatih, sama halnya seperti dosen ataupun guru yang harus menyampaikan ilmu kepada muridnya. Jika sedang mengajar, maka mereka harus fokus dalam penyampaian materi dan bersikap komunikatif supaya materi dan ilmu bisa di terima dengan baik oleh muridnya. Humor atau candaan penting diselipkan untuk memecahkan kebekuan saat mengajar, juga untuk mnciptakan suasana hangat dan akrab. Kadang mereka juga harus bersikap tegas pada saat mengajar, ini merupakan salah satu upaya mendisiplinkan murid yang tidak bisa diajak bekerja sama, dan juga untuk memperjelas batas antara dosen/pelatih dengan muridnya.

Dengan sesama profesi, mereka saling membicarakan tentang tugas-tugas dan pekerjaan. Sering juga mereka berdiskusi mengenai kebijakan yang dibuat kantor dan hal-hal sepele mengenai para murid atau peserta latihan.

Jika tidak sedang mengajar, mereka juga sering bermain permainan komputer Solitare di kantor sambil menunggu jam pulang kantor. Tentu saja ini dilakukan diam-diam, jauh dari jangkauan kepala balai. Diluar kantor, widyaiswara ini mempraktekkan apa yang menjadi keahliannya, yaitu berkebun dann bertani di waktu senggang. Sedangkan di rumah mereka menjadi ayah yang memanjakan anak-anaknya, tapi terkadang pelit karena gaji pokok sebagai seorang pegawai negeri tidak seberapa. Diluar rumah mereka menjadi orang yang mudah bergaul karena sikap komunikatif mereka dalam mengajar bisa diterapkan dalam bersosialisasi. Selain itu bidang pertanian yang mereka tekuni juga membuat mereka lebih membumi karena seringnya berinteraksi dengan para petani kecil.


0 komentar:

Poskan Komentar