investigative report

tugas ini saya buat sebagai tugas akhir mata kuliah Investigative Reporting pada semester 3. saya melakukan investigasi terhadap pedagang cincau di Cianjur yang ternyata melakukan kecurangan dalam membuat cincau dagangannya, yang bisa membahayakan para konsumen.


Cincau Hijau dengan Segudang Ancaman Kesehatan

CINCAU merupakan bahan makanan tradisional yang telah lama dikenal masyarakat dan digunakan sebagai isi minuman segar. Cincau disenangi karena berasa khas, segar dan dingin serta harganya murah. Ada empat jenis cincau yang dikenal masyarakat, yaitu cincau hijau, cincau hitam , cincau minyak dan cincau perdu. Bentuk fisik keempat tanaman itu amat berbeda satu sama lain. Namun masyarakat Indonesia amat menggemari jenis cincau hijau. Ini karena daun cincau hijau bersifat tipis dan lemas sehingga lebih mudah diremas untuk dijadikan gelatine atau agar-agar. Aroma cincau ini pun tidak langu.

Tanaman dari Asia Tenggara ini punya nama latin Cyclea barbata dan termasuk dalam suku sirawan-sirawanan (Menispermaceae). Batang tanaman yang disebut orang Sunda tarawulu, trewulu, camcauh ini berdiameter sekitar 1 cm dan merambat ke arah kanan pada pohon inang dengan panjang 5 sampai 16 meter.

Bentuk daun tanaman ini berbentuk perisai dan berwarna hijau. Pangkal daun berlekuk, tengah melebar dan ujungnya meruncing dengan panjang antara 5 sampai 16 sentimeter. Tepi daun berombak dan permukaan bawah daun berbulu halus. Sedangkan permukaan atas daun berbulu jarang dan terasa kasar bila dipegang.

Tanaman cincau sering ditemukan tumbuh sebagai tanaman liar, tetapi ada juga yang sengaja dibudidayakan di pekarangan rumah. Tumbuhan ini berkembang subur di dataran rendah sampai daerah dengan ketinggian 800 meter di atas permukaan laut. Tanah yang gembur dengan kadar keasaman 5,5 sampai 6,5 dan lingkungan teduh, lembab dan berair tanah dangkal adalah tempat tumbuh yang subur bagi tanaman ini.

Cincau hijau sejatinya punya banyak khasiat yang baik untuk kesehatan. Kandungan seratnya yang cukup tinggi dan kalorinya yang rendah baik untuk melancarkan pencernaan, serta dipercaya bisa mendinginkan panas dalam. Penelitian yang dilakukan oleh Direktorat Gizi Departemen Kesehatan terhadap cincau mengungkapkan terdapat 6,23 gram per 100 gram kandungan serat kasar dalam gel cincau. Ini berarti bila cincau dikonsumsi bersama dengan buah dan sayur mayur sehari-hari bisa memadai untuk memenuhi kebutuhan serat harian sebesar 30 gram sehingga bisa membantu memerangi penyakit degeneratif seperti jantung koroner.

Selain itu, daun cincau hijau telah diteliti mengandung karbohidrat, polifenol, saponin, flavonoida dan lemak. Kalsium, fosfor, vitamin A dan B juga ditemukan dalam daun cincau hijau. Kandungan-kandungan ini memungkinkan cincau hijau dimanfaatkan sebagai bahan pembuat obat-obatan, di samping digunakan sebagai minuman penyegar. Penyakit radang lambung, demam dan tekanan darah tinggi bisa dicoba disembuhkan dengan gel cincau hijau.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Prof. Dr. Sardjito, Dr. Rajiman dan Dr. Bambang Suwitho dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pada tahun 1966 menghasilkan penurunan tekanan darah secara signifikan terhadap pasien penderita tekanan darah tinggi, setelah diberi air perasan dari daun cincau segar sebanyak 5 gram yang digerus dengan 150 cc air matang. Pasien harus meminumnya sebanyak dua kali sehari untuk merasakan khasiat cincau hijau (sumber: www.kompas.com).

Baru-baru ini, laporan IPTEK Tim Peneliti dari Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor bersama Bagian Anatomi Patologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia bahkan menemukan bahwa cincau hijau mempunyai aktivitas anti-oksidan dan mampu mematikan sel kanker. Menurut salah satu peneliti, Dr Ir Fransiska R Zakaria MSc dari Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, pemberian ekstrak cincau hijau meningkatkan nekrosis (kematian) sel tumor pada mencit secara signifikan. Hasil itu menunjukkan cincau hijau mempunyai komponen bio-aktif yang mampu membunuh sel kanker. Dan yang paling mengejutkan, adalah bahwa ekstrak pelbagai bagian tanaman cincau itu mampu mematikan 55-90 persen sel leukemia. Maka dari itu sangat baik dikonsumsi oleh pengidap kanker (sumber: www2.kompas.com).

Namun, apa jadinya bila ternyata cincau hijau dimanipulasi sedemikian rupa sehingga berbagai khasiat untuk kesehatan yang terkandung di dalamnya malah berbalik merugikan kesehatan dengan ancaman serius seperti penyakit kanker serta serangan jantung koroner?

Tuntutan Hidup di Kampung Kecil

Sebuah investigasi mengenai pembuatan cincau yang membahayakan kesehatan dilakukan di kota Cianjur, Jawa Barat. Bermula dari petunjuk kecil yang dilontarkan seorang kuli bangunan bernama Dirin kepada kami mengenai partner kerjanya yang tidak suka cincau hijau. Usut demi usut, ternyata partner kerja Dirin yang bernama Ihin mengetahui banyak hal tentang penyelewengan yang dilakukan dalam proses pembuatan cincau hijau. Ia pun bersedia membawa kami ke salah satu pembuat sekaligus pedagang minuman cincau hijau di kampung asalnya, Kampung Sampih, Desa Sukamulya, Kecamatan Sukaluyu.

Dengan dalih ingin melakukan liputan mengenai profil pengusaha kecil, kami mendatangi kediaman Pak Aji bin Midi, salah satu pembuat sekaligus pedagang minuman cincau di kampung tersebut. Beliau menyambut kami dengan ramah, dan bersedia membantu dalam pembuatan liputan, serta membiarkan kami mengamati kegiatannya sehari-hari selama beberapa hari.

Pria 50 tahun yang memiliki tujuh anak ini mulai menjajakan cincau lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Ia menanggung beban keluarganya seorang diri karena istrinya yang cacat tanpa jari di tangan kiri dan kedua kakinya tidak bisa membantu bekerja. Rumah tempat tinggalnya sudah sangat rapuh dan tidak layak ditinggali, karenanya ia kini tinggal menumpang di rumah anaknya yang merupakan hasil kerja sang menantu yang bekerja sebagai TKW. Beliau setiap harinya pergi menjajakan cincau pada pagi hari sekitar pukul 09.00 -10.00 dan pulang pada pukul 16.00 sore dengan jarak tempuh berjualan dari kampung ke kampung sekitar 8-10 kilometer.

Dalam sehari Pak Aji bisa mendapatkan keuntungan sebesar tiga puluh ribu sampai tiga puluh lima ribu rupiah dari berjualan cincau keliling kampung bila seluruh dagangannya habis. Apabila ada orang kota yang membeli dagangannya, ia bisa menaikkan harga satu gelas cincau dari lima ratus rupiah sampai seribu rupiah per gelas, sehingga keuntungannya bisa bertambah mencapai empat puluh lima ribu rupiah. Namun bila dagangannya tidak laku, dalam sehari ia hanya mampu membiayai keluarganya dengan hasil yang hanya sepuluh ribu rupiah saja. Sedangkan sisa dagangannya biasa ia bagikan pada anak-anak di kampungnya.

Di penghujung hari itu, kami berbincang mengenai pembuatan cincau yang biasa Pak Aji lakukan. Menurutnya, proses pembuatan cincau hanya butuh waktu sekitar satu jam saja, setelah itu langsung siap dijual. Setelah melakukan pendekatan maksimal, akhirnya beliau mengizinkan kami untuk melihat proses pembuatan cincau yang biasa dilakukannya pada pagi hari, sebelum berangkat untuk berdagang. Betapa mengherankannya, mengingat cincau pada umumnya harus didiamkan selama kurang lebih sepuluh jam sebelum bisa mengeras.

Keesokan harinya, sebelum fajar menyingsing kami sudah bersiap bersama Pak Aji untuk membuat cincau. Bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat cincau satu resep terdiri dari daun cincau sebanyak satu kaleng biscuit—belum termasuk satu genggam daun yang nantinya tidak perlu diseduh, sebutir kelapa yang kemudian di jadikan santan, dan empat kantung plastic es batu. Sekilas, tidak ada yang beda dari bahan-bahan tersebut. Namun kemudian Pak Aji mengeluarkan sesuatu yang baru, dibungkus kain hanya sebesar ukuran jempol kaki; abu kayu bakar dari pohon karet, ditambahkan sebagai pelengkap bahan-bahan pembuat cincau.

Abu Kayu Bakar, Bisa Membuat Cincau Mengeras Lebih Cepat

Proses pembuatan satu resep cincau terbagi menjadi tiga bagian, yaitu pembuatan cincau, es serut santan, dan air gula.

Pertama pembuatan cincau menjadi agar-agar terlebih dahulu. Satu takar daun yang ia beli diseduh dengan air mendidih. Lalu daun di masukan dan diremas sampai hancur ke dalam air mentah yang berasal dari sumur sebanyak 15 liter. Tidak lupa ia menambahkan segenggam daun yang tidak diseduh sebelumnya untuk di remas dan dihancurkan ke dalam air 15 liter tadi. Busa yang timbul dari remasan daun dibuang, kemudian air remasan daunnya dimasukkan ke dalam wadah berupa ember bekas cat tembok lalu disaring dengan kain saringan sambil dipindahkan ke dalam wadah yang biasa dibawanya dalam perjalanan menjajakan cincau. Abu yang sudah disiapkan sebesar ukuran jempol kaki di masukkan ke dalam kain dan di remas di dalam air cincau sampai larut. Lalu di aduk sampai merata. Abu tersebut di ambil dari sisa pembakaran kayu bakar yang digunakan untuk memasak. Kayu bakar yang berasal dari pohon karet dibeli Pak Aji dari pasar dekat tempatnya tinggal. Setelah itu, tunggu tiga puluh sampai enam puluh menit sampai cincau mengeras menjadi semacam jelly atau agar-agar.

Suasana tempat Pak Aji membuat cincau di samping sumur.

Tentu, cara seperti ini jauh lebih praktis dan lebih cepat ketimbang harus menunggu semalaman seperti proses pembuatan cincau pada umumnya. Sebagai catatan, Pak Aji membuat cincaunya di luar rumah, di samping sumur tua yang kondisinya sangat tidak higienis dengan banyak unggas berkeliaran di daerah rumahnya.

Sambil menunggu cincau mengeras, Pak Aji membuat es serut santannya. Pertama ia menyerut empat kantung plastic es batu dari air mentah itu satu persatu, menggunakan serutan kayu yang sudah hampir lapuk dan pegangan es dengan paku yang sudah karatan. Kemudian es serut dicampur dengan santan dari satu butir kelapa, dan dimasukkan ke dalam tempat yang dilapis-lapis sedemikian rupa yang bisa menjaga suhu di dalamnya tetap dingin.

Sedangkan untuk membuat air gula, Pak Aji hanya tingal mencampurkan sepertiga bungkus gula biang dan sepertiga tube pewarna makanan warna merah ke dalam 3 liter air.

Menilik langkah-langkah yang di ambil Pak Aji dalam membuat minuman cincau, baik dari alat dan bahan yang digunakan, jelas jauh dari standar Departemen Kesehatan tentang Persiapan Penyediaan Makanan, dimulai dari persiapan, pengolahan sampai


dengan penyajiannya. Hal ini tentu merugikan konsumen, karena tidak amannya bahan serta alat yang digunakan bisa membawa bakteri penyebab berbagai macam penyakit.

Ancaman Kesehatan yang Cukup Serius

Dalam persiapan penyediaan makanan menurut standar Departemen Kesehatan yang diutarakan oleh Ir. Titin Harini, MSc. dan Ir. Ine Indrati Sigit, MPs. dari bagian Direktorat Bina Gizi Masyarakat Depkes R.I. setidaknya mencakup tiga hal, yaitu tahap persiapan, tahap pengolahan, dan tahap penyajian.

  • Pada tahap persiapan, maka beberapa aspek yang harus diperhatikan, adalah:

1. Kebersihan / sanitasi alat,

2. Kebersihan / sanitasi lingkungan,

3. Keamanan dan kebersihan bahan makanan yang akan diolah.

  • Pada tahap pengolahan, perlu diperhatikan beberapa aspek, yaitu:

1. Cara pengolahan,

2. Sanitasi pengolahan (sampai dengan pengepakan),

3. Bahan tambahan makanan yang dipakai (jenis dan jumlahnya)

  • Pada tahap penyajian, hal-hal yang menjadi perhatian adalah:

1. Kebersihan tempat / wadah,

2. Estetika / keindahan penyajian

Sedangkan dalam kasus pembuatan cincau yang dilakukan dengancara Pak Aji, terdapat beberapa penyalahan yang dapat merugikan konsumen, antara lain:

1. Pada pembuatan es, digunakan air mentah yang pada umumnya mengandung E. Coli, yang dapat menyebabkan disentri.

2. Sumur yang dipakai sebagai sumber air untuk pembuatan es dan larutan cincau sangat tidak layak dtinjau dari sisi kebersihan. Lumut menjadi media pertumbuhan berbagai macam bakteri yang dapat menyebabkan disentri atau diare.

3. Pada saat pembuatan cincau, digunakan beberapa bahan yang menurut jenisnya, tidak disarankan ke dalam bahan makanan, yaitu :

a. Abu kayu bakar, merupakan hasil pembakaran yang dapat memperkeruh asupan air dan memperberat kerja ginjal.

b. Gula biang, apalagi dengan perbandingan 1/3 bungkus untuk 3 liter air, termasuk pekat dan berbahaya bagi kerja ginjal dan liver (hati).

c. Pewarna makanan yang biasa dipakai adalah pewarna sintesis (karena biaya produksi dari bahan alami lebih mahal) dan dengan perbandingan 1/3 tube untuk 3 liter air termasuk pekat.

Secara umum, sebagai kesimpulan, pemakaian abu kayu bakar, gula biang dan pewarna makanan dalam pembuatan cincau dapat dikatakan sebaga memasukkan radikal bebas ke dalam makanan yang akan merugikan konsumen.

Radikal bebas jika secara terus-menerus dikonsumsi tubuh akan berdampak kepada :

1. Pembentukan sel kanker,

2. Jika bereaksi dengan kolesterol dalam aliran darah, maka akan menimbulkan kelengketan.

Sifat lengket ibarat permen karet, yang semakin lama akan menimbulkan kerak dan memperkeras pembuluh darah, sehingga semakin lama menyebabkan pengerasan pembuluh darah dan penyumbatan yang disebut dengan aterosclerosis. Keadaaan ini menjadi pemicu penyakit serangan jantung koroner yang jika tidak ditangani bisa menimbulkan kematian.

Maka dari itu, setiap makanan yang kita beli sebaiknya diteliti lebih lanjut apakah proses pembuatannya sesuai dengan standar Persiapan Penyediaan Makanan dari Departemen Kesehatan atau tidak, serta bahan-bahan yang digunakan aman atau tidak bagi tubuh. Karena dengan mengkonsumsi cincau yang proses pembuatannya melenceng saja bisa mengancam kesehatan sedemikian seriusnya. Tidak ada yang akan merasa paling dirugikan apabila kesehatan terganggu akibat sembarangan mengkonsumsi makanan yang tidak sehat, selain konsumen sendiri.

Amanda Dwi Ayu Utari, Cindy Pratiwi.

MC 11-10 B


0 komentar:

Poskan Komentar