Tampilkan postingan dengan label observation and research skill. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label observation and research skill. Tampilkan semua postingan

Spain's most popular culture

tugas ini di buat untuk memenuhi tugas mata kuliah Intercultural Communication pada semester 6.

Bull fighting in Spain
Bull fighting is very closely associated with Spain and can trace its origins back to 711 A.D. This is when the first bullfight took place in celebration for the crowning of King Alfonso VIII. It is very popular in Spain with several thousand Spaniards flocking to their local bull-ring each week. It is said that the total number of people watching bullfights in Spain reaches one million every year.

Bullfighting was originally a sport for the aristocracy and took place on horseback. King Felipe V took exception to the sport however and banned the aristocracy from taking part, believing it to be a bad example to the public. After the ban commoners accepted the sport as their own and, since they could not afford horses, developed the practice of dodging the bulls on foot, unarmed. This transformation occurred around 1724.

So what happens during a bullfight?:
Firstly the bull is let into the ring. Then, the top bullfighter called the Matador, watches his chief assistant wave a bright yellow and magenta cape in front of the bull to make it charge. He watches this in order to determine the bull's qualities and mood, before taking over himself.

Then a trumpet is sounded and several fighters called Picadores weaken the bull by placing spears into it. This takes around 10 minutes.

Another trumpet is sounded and the Matador now removes his black winged hat and dedicates the death of the bull to the president or the crowd before beginning his faena.

The faena which is the most beautiful and skillful section of the fight and where the matador must prove his courage and artistry. The faena consists of a running at the Matador carrying a muleta. This is a piece of thick crimson cloth draped over a short stick, which can be held in either the left hand or draped over the espada, the killing sword, which is always held in the right hand. Usually the muleta, in left or right hand, is first held in front of the matador to make the bull charge and is then swung across and away from the matador's body hopefully taking the bull with it.

This is a show, basically a dance with death - one wrong move and the Matador could become impaled on the horns of the bull. It is the Matador's job to make this dance dramatic and enjoyable for the audience.

The faena continues until the Matador has demonstrated his superiority over the bull. Once this is achieved the bull is ready to be killed.

The matador stands some ten feet from the bull, keeping the bull fixated on the muleta and aims the espada between the shoulder blades. The matador attacks pushing the espada over the horns and deep between the shoulder blades. If the sword goes in to the hilt it is an estocada but if it hits bone it is a pinchazo or media-estocada. An estocada usually results in the bull dropping immediately to its knees and dying, but if the bull fails to die the matador may take the descabello (a sword with a short cross piece at the end) which he stabs into the bull's neck severing the spinal cord. The fight is over.

The matador may be awarded trophies by the president, according to his skill in working with the bull, which can be one or two ears from the bull, the tail and the hoof. The crowd will often encourage the president to award the trophies by waving white hankerchiefs, and this waving continues after the trophies have been awarded in an attempt to get the matador to throw his trophies into the crowd. The crowd in return hurls flowers which are collected by the matador's assistants.


investigative report

tugas ini saya buat sebagai tugas akhir mata kuliah Investigative Reporting pada semester 3. saya melakukan investigasi terhadap pedagang cincau di Cianjur yang ternyata melakukan kecurangan dalam membuat cincau dagangannya, yang bisa membahayakan para konsumen.


Cincau Hijau dengan Segudang Ancaman Kesehatan

CINCAU merupakan bahan makanan tradisional yang telah lama dikenal masyarakat dan digunakan sebagai isi minuman segar. Cincau disenangi karena berasa khas, segar dan dingin serta harganya murah. Ada empat jenis cincau yang dikenal masyarakat, yaitu cincau hijau, cincau hitam , cincau minyak dan cincau perdu. Bentuk fisik keempat tanaman itu amat berbeda satu sama lain. Namun masyarakat Indonesia amat menggemari jenis cincau hijau. Ini karena daun cincau hijau bersifat tipis dan lemas sehingga lebih mudah diremas untuk dijadikan gelatine atau agar-agar. Aroma cincau ini pun tidak langu.

Tanaman dari Asia Tenggara ini punya nama latin Cyclea barbata dan termasuk dalam suku sirawan-sirawanan (Menispermaceae). Batang tanaman yang disebut orang Sunda tarawulu, trewulu, camcauh ini berdiameter sekitar 1 cm dan merambat ke arah kanan pada pohon inang dengan panjang 5 sampai 16 meter.

Bentuk daun tanaman ini berbentuk perisai dan berwarna hijau. Pangkal daun berlekuk, tengah melebar dan ujungnya meruncing dengan panjang antara 5 sampai 16 sentimeter. Tepi daun berombak dan permukaan bawah daun berbulu halus. Sedangkan permukaan atas daun berbulu jarang dan terasa kasar bila dipegang.

Tanaman cincau sering ditemukan tumbuh sebagai tanaman liar, tetapi ada juga yang sengaja dibudidayakan di pekarangan rumah. Tumbuhan ini berkembang subur di dataran rendah sampai daerah dengan ketinggian 800 meter di atas permukaan laut. Tanah yang gembur dengan kadar keasaman 5,5 sampai 6,5 dan lingkungan teduh, lembab dan berair tanah dangkal adalah tempat tumbuh yang subur bagi tanaman ini.

Cincau hijau sejatinya punya banyak khasiat yang baik untuk kesehatan. Kandungan seratnya yang cukup tinggi dan kalorinya yang rendah baik untuk melancarkan pencernaan, serta dipercaya bisa mendinginkan panas dalam. Penelitian yang dilakukan oleh Direktorat Gizi Departemen Kesehatan terhadap cincau mengungkapkan terdapat 6,23 gram per 100 gram kandungan serat kasar dalam gel cincau. Ini berarti bila cincau dikonsumsi bersama dengan buah dan sayur mayur sehari-hari bisa memadai untuk memenuhi kebutuhan serat harian sebesar 30 gram sehingga bisa membantu memerangi penyakit degeneratif seperti jantung koroner.

Selain itu, daun cincau hijau telah diteliti mengandung karbohidrat, polifenol, saponin, flavonoida dan lemak. Kalsium, fosfor, vitamin A dan B juga ditemukan dalam daun cincau hijau. Kandungan-kandungan ini memungkinkan cincau hijau dimanfaatkan sebagai bahan pembuat obat-obatan, di samping digunakan sebagai minuman penyegar. Penyakit radang lambung, demam dan tekanan darah tinggi bisa dicoba disembuhkan dengan gel cincau hijau.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Prof. Dr. Sardjito, Dr. Rajiman dan Dr. Bambang Suwitho dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pada tahun 1966 menghasilkan penurunan tekanan darah secara signifikan terhadap pasien penderita tekanan darah tinggi, setelah diberi air perasan dari daun cincau segar sebanyak 5 gram yang digerus dengan 150 cc air matang. Pasien harus meminumnya sebanyak dua kali sehari untuk merasakan khasiat cincau hijau (sumber: www.kompas.com).

Baru-baru ini, laporan IPTEK Tim Peneliti dari Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor bersama Bagian Anatomi Patologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia bahkan menemukan bahwa cincau hijau mempunyai aktivitas anti-oksidan dan mampu mematikan sel kanker. Menurut salah satu peneliti, Dr Ir Fransiska R Zakaria MSc dari Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, pemberian ekstrak cincau hijau meningkatkan nekrosis (kematian) sel tumor pada mencit secara signifikan. Hasil itu menunjukkan cincau hijau mempunyai komponen bio-aktif yang mampu membunuh sel kanker. Dan yang paling mengejutkan, adalah bahwa ekstrak pelbagai bagian tanaman cincau itu mampu mematikan 55-90 persen sel leukemia. Maka dari itu sangat baik dikonsumsi oleh pengidap kanker (sumber: www2.kompas.com).

Namun, apa jadinya bila ternyata cincau hijau dimanipulasi sedemikian rupa sehingga berbagai khasiat untuk kesehatan yang terkandung di dalamnya malah berbalik merugikan kesehatan dengan ancaman serius seperti penyakit kanker serta serangan jantung koroner?

Tuntutan Hidup di Kampung Kecil

Sebuah investigasi mengenai pembuatan cincau yang membahayakan kesehatan dilakukan di kota Cianjur, Jawa Barat. Bermula dari petunjuk kecil yang dilontarkan seorang kuli bangunan bernama Dirin kepada kami mengenai partner kerjanya yang tidak suka cincau hijau. Usut demi usut, ternyata partner kerja Dirin yang bernama Ihin mengetahui banyak hal tentang penyelewengan yang dilakukan dalam proses pembuatan cincau hijau. Ia pun bersedia membawa kami ke salah satu pembuat sekaligus pedagang minuman cincau hijau di kampung asalnya, Kampung Sampih, Desa Sukamulya, Kecamatan Sukaluyu.

Dengan dalih ingin melakukan liputan mengenai profil pengusaha kecil, kami mendatangi kediaman Pak Aji bin Midi, salah satu pembuat sekaligus pedagang minuman cincau di kampung tersebut. Beliau menyambut kami dengan ramah, dan bersedia membantu dalam pembuatan liputan, serta membiarkan kami mengamati kegiatannya sehari-hari selama beberapa hari.

Pria 50 tahun yang memiliki tujuh anak ini mulai menjajakan cincau lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Ia menanggung beban keluarganya seorang diri karena istrinya yang cacat tanpa jari di tangan kiri dan kedua kakinya tidak bisa membantu bekerja. Rumah tempat tinggalnya sudah sangat rapuh dan tidak layak ditinggali, karenanya ia kini tinggal menumpang di rumah anaknya yang merupakan hasil kerja sang menantu yang bekerja sebagai TKW. Beliau setiap harinya pergi menjajakan cincau pada pagi hari sekitar pukul 09.00 -10.00 dan pulang pada pukul 16.00 sore dengan jarak tempuh berjualan dari kampung ke kampung sekitar 8-10 kilometer.

Dalam sehari Pak Aji bisa mendapatkan keuntungan sebesar tiga puluh ribu sampai tiga puluh lima ribu rupiah dari berjualan cincau keliling kampung bila seluruh dagangannya habis. Apabila ada orang kota yang membeli dagangannya, ia bisa menaikkan harga satu gelas cincau dari lima ratus rupiah sampai seribu rupiah per gelas, sehingga keuntungannya bisa bertambah mencapai empat puluh lima ribu rupiah. Namun bila dagangannya tidak laku, dalam sehari ia hanya mampu membiayai keluarganya dengan hasil yang hanya sepuluh ribu rupiah saja. Sedangkan sisa dagangannya biasa ia bagikan pada anak-anak di kampungnya.

Di penghujung hari itu, kami berbincang mengenai pembuatan cincau yang biasa Pak Aji lakukan. Menurutnya, proses pembuatan cincau hanya butuh waktu sekitar satu jam saja, setelah itu langsung siap dijual. Setelah melakukan pendekatan maksimal, akhirnya beliau mengizinkan kami untuk melihat proses pembuatan cincau yang biasa dilakukannya pada pagi hari, sebelum berangkat untuk berdagang. Betapa mengherankannya, mengingat cincau pada umumnya harus didiamkan selama kurang lebih sepuluh jam sebelum bisa mengeras.

Keesokan harinya, sebelum fajar menyingsing kami sudah bersiap bersama Pak Aji untuk membuat cincau. Bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat cincau satu resep terdiri dari daun cincau sebanyak satu kaleng biscuit—belum termasuk satu genggam daun yang nantinya tidak perlu diseduh, sebutir kelapa yang kemudian di jadikan santan, dan empat kantung plastic es batu. Sekilas, tidak ada yang beda dari bahan-bahan tersebut. Namun kemudian Pak Aji mengeluarkan sesuatu yang baru, dibungkus kain hanya sebesar ukuran jempol kaki; abu kayu bakar dari pohon karet, ditambahkan sebagai pelengkap bahan-bahan pembuat cincau.

Abu Kayu Bakar, Bisa Membuat Cincau Mengeras Lebih Cepat

Proses pembuatan satu resep cincau terbagi menjadi tiga bagian, yaitu pembuatan cincau, es serut santan, dan air gula.

Pertama pembuatan cincau menjadi agar-agar terlebih dahulu. Satu takar daun yang ia beli diseduh dengan air mendidih. Lalu daun di masukan dan diremas sampai hancur ke dalam air mentah yang berasal dari sumur sebanyak 15 liter. Tidak lupa ia menambahkan segenggam daun yang tidak diseduh sebelumnya untuk di remas dan dihancurkan ke dalam air 15 liter tadi. Busa yang timbul dari remasan daun dibuang, kemudian air remasan daunnya dimasukkan ke dalam wadah berupa ember bekas cat tembok lalu disaring dengan kain saringan sambil dipindahkan ke dalam wadah yang biasa dibawanya dalam perjalanan menjajakan cincau. Abu yang sudah disiapkan sebesar ukuran jempol kaki di masukkan ke dalam kain dan di remas di dalam air cincau sampai larut. Lalu di aduk sampai merata. Abu tersebut di ambil dari sisa pembakaran kayu bakar yang digunakan untuk memasak. Kayu bakar yang berasal dari pohon karet dibeli Pak Aji dari pasar dekat tempatnya tinggal. Setelah itu, tunggu tiga puluh sampai enam puluh menit sampai cincau mengeras menjadi semacam jelly atau agar-agar.

Suasana tempat Pak Aji membuat cincau di samping sumur.

Tentu, cara seperti ini jauh lebih praktis dan lebih cepat ketimbang harus menunggu semalaman seperti proses pembuatan cincau pada umumnya. Sebagai catatan, Pak Aji membuat cincaunya di luar rumah, di samping sumur tua yang kondisinya sangat tidak higienis dengan banyak unggas berkeliaran di daerah rumahnya.

Sambil menunggu cincau mengeras, Pak Aji membuat es serut santannya. Pertama ia menyerut empat kantung plastic es batu dari air mentah itu satu persatu, menggunakan serutan kayu yang sudah hampir lapuk dan pegangan es dengan paku yang sudah karatan. Kemudian es serut dicampur dengan santan dari satu butir kelapa, dan dimasukkan ke dalam tempat yang dilapis-lapis sedemikian rupa yang bisa menjaga suhu di dalamnya tetap dingin.

Sedangkan untuk membuat air gula, Pak Aji hanya tingal mencampurkan sepertiga bungkus gula biang dan sepertiga tube pewarna makanan warna merah ke dalam 3 liter air.

Menilik langkah-langkah yang di ambil Pak Aji dalam membuat minuman cincau, baik dari alat dan bahan yang digunakan, jelas jauh dari standar Departemen Kesehatan tentang Persiapan Penyediaan Makanan, dimulai dari persiapan, pengolahan sampai


dengan penyajiannya. Hal ini tentu merugikan konsumen, karena tidak amannya bahan serta alat yang digunakan bisa membawa bakteri penyebab berbagai macam penyakit.

Ancaman Kesehatan yang Cukup Serius

Dalam persiapan penyediaan makanan menurut standar Departemen Kesehatan yang diutarakan oleh Ir. Titin Harini, MSc. dan Ir. Ine Indrati Sigit, MPs. dari bagian Direktorat Bina Gizi Masyarakat Depkes R.I. setidaknya mencakup tiga hal, yaitu tahap persiapan, tahap pengolahan, dan tahap penyajian.

  • Pada tahap persiapan, maka beberapa aspek yang harus diperhatikan, adalah:

1. Kebersihan / sanitasi alat,

2. Kebersihan / sanitasi lingkungan,

3. Keamanan dan kebersihan bahan makanan yang akan diolah.

  • Pada tahap pengolahan, perlu diperhatikan beberapa aspek, yaitu:

1. Cara pengolahan,

2. Sanitasi pengolahan (sampai dengan pengepakan),

3. Bahan tambahan makanan yang dipakai (jenis dan jumlahnya)

  • Pada tahap penyajian, hal-hal yang menjadi perhatian adalah:

1. Kebersihan tempat / wadah,

2. Estetika / keindahan penyajian

Sedangkan dalam kasus pembuatan cincau yang dilakukan dengancara Pak Aji, terdapat beberapa penyalahan yang dapat merugikan konsumen, antara lain:

1. Pada pembuatan es, digunakan air mentah yang pada umumnya mengandung E. Coli, yang dapat menyebabkan disentri.

2. Sumur yang dipakai sebagai sumber air untuk pembuatan es dan larutan cincau sangat tidak layak dtinjau dari sisi kebersihan. Lumut menjadi media pertumbuhan berbagai macam bakteri yang dapat menyebabkan disentri atau diare.

3. Pada saat pembuatan cincau, digunakan beberapa bahan yang menurut jenisnya, tidak disarankan ke dalam bahan makanan, yaitu :

a. Abu kayu bakar, merupakan hasil pembakaran yang dapat memperkeruh asupan air dan memperberat kerja ginjal.

b. Gula biang, apalagi dengan perbandingan 1/3 bungkus untuk 3 liter air, termasuk pekat dan berbahaya bagi kerja ginjal dan liver (hati).

c. Pewarna makanan yang biasa dipakai adalah pewarna sintesis (karena biaya produksi dari bahan alami lebih mahal) dan dengan perbandingan 1/3 tube untuk 3 liter air termasuk pekat.

Secara umum, sebagai kesimpulan, pemakaian abu kayu bakar, gula biang dan pewarna makanan dalam pembuatan cincau dapat dikatakan sebaga memasukkan radikal bebas ke dalam makanan yang akan merugikan konsumen.

Radikal bebas jika secara terus-menerus dikonsumsi tubuh akan berdampak kepada :

1. Pembentukan sel kanker,

2. Jika bereaksi dengan kolesterol dalam aliran darah, maka akan menimbulkan kelengketan.

Sifat lengket ibarat permen karet, yang semakin lama akan menimbulkan kerak dan memperkeras pembuluh darah, sehingga semakin lama menyebabkan pengerasan pembuluh darah dan penyumbatan yang disebut dengan aterosclerosis. Keadaaan ini menjadi pemicu penyakit serangan jantung koroner yang jika tidak ditangani bisa menimbulkan kematian.

Maka dari itu, setiap makanan yang kita beli sebaiknya diteliti lebih lanjut apakah proses pembuatannya sesuai dengan standar Persiapan Penyediaan Makanan dari Departemen Kesehatan atau tidak, serta bahan-bahan yang digunakan aman atau tidak bagi tubuh. Karena dengan mengkonsumsi cincau yang proses pembuatannya melenceng saja bisa mengancam kesehatan sedemikian seriusnya. Tidak ada yang akan merasa paling dirugikan apabila kesehatan terganggu akibat sembarangan mengkonsumsi makanan yang tidak sehat, selain konsumen sendiri.

Amanda Dwi Ayu Utari, Cindy Pratiwi.

MC 11-10 B


Munas Partai Golkar

catatan berikut saya buat untuk memenuhi tugas Media Relation, dengan mengamati peristiwa plitik Munas Partai Golkar, pada semster 5.

Munas Partai Golkar

Munas Golkar atau Musyawarah Nasional Partai Golkar yang bertujuan untuk memilih ketua umum partai Golkar haruslah menjadi sebuah momentum menuju perubahan ke arah kebaiakan baik bagi internal partai Golkar maupun bagi eksternal dan demi kepentingan negara. Munas Golkar VIII rencananya akan diselenggarakan di hotel Labersa Pekanbaru, Riau yang dibuka pada Senin malam tanggal 5 Oktober 2009 dan di tutup tanggal 8 oktober 2009 malam.

Pemilihan ketua umum partai Golkar pada Munas nanti, selayaknya sebuah partai besar sudah dipersiapkan dengan sangat matang. Penjagaan ketat dan fasilitas nomor satu pun di sediakan untuk kelancaran Munas. Ketua Panitia Pelaksana Pusat Munas Partai Golkar Fatommy Asaari bekerja keras demi melaksanakan Munas yang berlokasi di luar Jakarta, melainkan di provinsi yang telah di setujui yaitu Riau.

Persiapan matang tersebut bukan atas dasar sembarangan, kerena Munas Golkar akan dihadiri banyak tokoh penting nasional baik yang mewakili dewan pimpinan daerah (DPD) untuk memberikan suara maupun yang maju menjadi kandidat ketua umum untuk menggantikan ketua umum saat ini, Jusuf Kala. Jumlah peserta yang akan menghadiri Muna diperkirakan dua ribu peserta.

Mengenai tata tertib munas dan tata tertib pemilihan ketua umum, diputuskan bahwa semua peserta , baik DPP, ormas, DPD I, dan DPD II masing-masing memiliki satu hak suara di munas. Jadi, tidak ada pengelompokan suara. Jumlah suara yang akan diperebutkan di munas kali ini sebanyak 536 suara. Rinciannya, 492 DPD II, 33 DPD I, 10 ormas, dan 1 DPP. Setiap kader yang ingin mencalonkan diri sebagai ketua umum harus mendaftarkan diri kepada pimpinan munas dan melengkapi persyaratan yang diatur dalam AD/ART partai. Kandidat harus mendapat dukungan minimal 30 persen suara dari peserta munas.

Penggantian ketua umum bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan pribadi yang kuat dan pemimpin yang tangguh. Maka dari itu syarat menjadi kandidat ketua umum pun tidak sembarangan. Persyaratan menjadi ketua umum Golkar dirangkum dalam lima hal. Pertama, punya solusi untuk menghentikan keterpurukan. Kedua, punya “platform” atau paradigma baru untuk mengubah sistem kenegaraan dari otoriter menjadi demokrasi. Sistem yang menjamin kedaulatan rakyat tidak menjadi mainan dan dagang sapi. Ketiga, punya keberanian lebih, termasuk berani berbuat salah sekalipun untuk menghadirkan kebenaran karena selama ini terbelenggu sistem hukum yang ada. Keempat, punya integritas pribadi yang tinggi yang telah dibuktikan melalui proses hukum nasional maupun internasional yang berlaku. Dan kelima, sosok yang tidak bermasalah atau bagian masalah yang sedang dihadapi bangsa sehingga Partai Golkar tidak terbawa dalam keruwetan masalah pribadi yang akan menghancurkan partai.

Kandidat ketua umum Golkar yang maju dan menganggap memenuhi lima persyaratan ada empat, yaitu Aburizal Bakrie, Surya Paloh, Hutomo Mandala Putra dan Yuddy Chrisnandi.

Kandidat pertama adalah Aburizal Bakrie. Selain sebagai pengusaha, politisi Golkar ini kini dirotasi dari Menko Perekonomian menjadi Menko Kesra pada resuffle Kabinet Indonesia Bersatu oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Aburizal dulunya juga sempat menjadi Ketua Umum Kadin (Kamar Dagang dan Industri) Indonesia sebelum diangkat menjadi Menko Perekonomian Kabinet Indonesia Bersatu, dan sempat menjadi salah satu kandidat calon presiden yang memenangi lima besar dalam Konvensi Partai Golkar.

Jabatan Ketua Umum Kadin Indonesia yang dipangkunya sejak 1994, telah mengantarnya untuk berkutat pada persoalan-persoalan nasional yang lebih besar daripada persoalan-persoalan yang dialami perusahaannya sendiri. Putera sulung pengusaha H Achmad Bakrie kelahiran Jakarta 15 November 1946 ini meski sesibuk apa pun, ternyata masih sempat menikmati hobinya yaitu menyanyi dan olahraga. Tentang olahraga, alumni jurusan elektro ITB tahun 1973 ini benar-benar disiplin melakukannya. Tiga jam setiap hari. Dia juga tidak merokok.

Aburizal Bakrie berkibar dengan perusahaan yang dirintis keluarganya, PT Bakrie Brothers Tbk, sejak 1942. Jabatan di Bakrie Brothers yang pernah dipegang, antara lain, direktur utama PT Bakrie Nusantara Corporation pada 1989-1992, Dirut PT Bakrie & Brothers 1988-1992, dan komisaris utama Kelompok Usaha Bakrie pada 1999-2004. Ical juga aktif di organisasi. Periode 2000-2005, dia menjadi anggota Dewan Pakar ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim se-Indonesia); 1999-2004, menjadi ketua umum Kadin (Kamar Dagang dan Industri Indonesia) periode II; 1996-1998, menjabat presiden Asean Chamber of Commerce & Industry; dan 1993-1998, anggota Majelis Pemusyawaratan Rakyat (MPR)-periode II. Masih banyak organisasi-organisasi lainnya yang pernah diikuti Ical. Selain itu Ical juga telah menerima beberapa penghargaan bergengsi, seperti Penghargaan “ASEAN Business Person of the Year” dari the ASEAN Business Forum pada tahun 1997; Pengharagaan “Businessman of the Year” dari Harian Republika pada tahun 1995; dan Penghargaan “The Outstanding Young People of the World” dari the Junior Chamber of Commerce pada tahun 1986.

Kandidat ketua umum Golkar kedua adalah Surya Paloh, yang dikenal mempunyai idealisme untuk menegakkan nilai-nilai demokrasi dalam bingkai wawasan kebebasan pers. Sebagai seorang yang terjun dalam dunia pers sebagai publisher, Surya menyadari kebebasan pers bukanlah kebebasan absolut tanpa nilai. Kebebasan pers harus diwujudkan sebagai sikap kritis yang rasional, proporsional, dan profesional tanpa membenci atau memusuhi pihak manapun.

Sepak terjang Surya Paloh, antara lain sebagai Ketua BPP Hipmi Pusat tahu 1977-1979, mendirikan FKPPI tahun 1978, Ketua Umum PP-FKPPI tahun 1979-1981 dan tahun 1981-1983, Anggota Dewan Pertimbangan DPP Pepabri tahun 1982-1984, Ketua DPP AMPI tahun 1984-1989, Ketua Dewan Pertimbangan PP-FKPPI tahun 1984-1987, Ketua Dewan Kehormatan BPP Hipmi tahun 1984-1987, Anggota Dewan Pembina DPP AMPI tahun 1989 sampai sekarang, Pengurus PB Gabsi tahun 1998 hingga sekarang, Anggota Dewan Pers tahun 1999 sampai sekarang, dan Ketua SPS Pusat tahun 1999 hinggga sekarang. Di kelembagaan legislatif, Surya pada tahun 1971 tercatat sebagai Calon Anggota DPRD Tingkat II Medan dari Golkar, lalu sebagai Anggota MPR pada tahun 1977-1982 dan kembali menjadi Anggota MPR tahun 1982-1987. Terakhir, pada tahun 1987 sebagai Calon Anggota MPR/DPR RI dari Golkar namun urung dilantik setelah Prioritas koran miliknya dibredel. Pembredelan inilah puncak sekaligus awal kontroversi politik Surya, yang membawanya ke sebuah vonis kematian perdata dan hak-hak politik dalam waktu lama sampai terbetik gagasan memunculkan Konvensi Presiden Partai Golkar. Sebagai salah satu pencetus gagasan konvensi Surya lalu membangunkan sendiri dirinya untuk ikut bertarung sebagai salah seorang kandidat calon presiden dari Partai Golkar.

Sepak terjangnya dalam pentas politik nasional sebagai kader Golkar dimulai dari bawah. Sehingga dia merasakan betul arti sebuah perjuangan dan keberhasilan. Keberhasilannya dalam dunia bisnis, misalnya, terlihat di PT Indocater yang merupakan perusahaan katering terbesar dan terbaik di Indonesia dengan 4.000-an karyawan. Setelah membangun usaha di tahun 1975 dengan bendera PT Ika Mataram Coy, baru berselang empat tahun kemudian dia membeli penuh saham PT Indocater yang lalu diangkatnya menjadi mesin pencetak uang yang menguntungkan. Surya sebagai pengusaha sukses, kini sudah mempunyai aset dalam hitungan trilyun rupiah. Rekaman sepakterjang bisnisnya di Jakarta mencatat deretan cukup panjang. Intinya antara lain adalah, Metro TV, Media Indonesia, Lampung Pos, Intercontinental Hotel Jimbaran, Sheraton Media Hotel Jakarta, Papandayan Hotel Bandung, Sun Plaza Medan, Indocater, dan sejumlah perusahaan marmer, kabel, komputer dengan jumlah karyawan 15.000 orang.

Kandidat ketua umum Golkar ketiga adalah putera bungsu mantan Presiden Soeharto, yaitu Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto. Mungkin diantara kandidat ketua umum Golkar yang lain, track record Tommy adalah yang paling buruk. Dari tahun 2002 hingga 2006, ia dipenjara atas merencanakan pembunuhan terhadap Hakim Agung Syafiuddin Kartasasmita pada 26 Juli 2001, kepemilikan senjata api dan amunisi, dan sengaja melarikan diri.

Tommy ditangkap pada November 2001 dan mulai menjalani hukumannya sejak 16 Agustus 2002. Awalnya Tommy mendekam di Lembaga Permasyarakatan (LP) Batu, Nusakambangan, namun sejak 3 April 2006, ia dipindahkan ke Lembaga Permasyarakatan Narkotika Cipinang.

Pada Juni 2005, Mahkamah Agung meringankan hukuman Tommy dari 15 tahun menjadi 10 tahun. Sejak divonis pada tahun 2002 hingga November 2005, Tommy juga telah mendapatkan remisi sebanyak enam kali, yang jika ditotal berjumlah 20 bulan, termasuk remisi lima bulan pada peringatan Kemerdekaan Indonesia dan 6 minggu pada perayaan Idul Fitri pada tahun 2006. Dengan potongan itu, Tommy yang seharusnya bebas pada 2011, keluar dari penjara pada Oktober 2008.

Ia dibebaskan bersyarat pada 30 Oktober 2006 dan diharuskan untuk mengikuti pengawasan dan pembinaan di Balai Pemasyarakatan (Bapas) Salemba hingga masa hukumannya berakhir.

Kandidat ketua umum terakhir adalah perwakilan dari golongan muda, Yuddy Chrisnandi. Laki-laki yang lahir 41 tahun yang lalu kini tengah menempuh pendidikan S3 Ilmu Politik Universitas Indonesia sejak tahun 2001. Riwayat pekerjaannya yaitu pernah bekerja di Bank Bukopin pada tahun 1991 -1992; Bank Bumidaya pada tahun 1992 – 1994; BPPN pada tahun 1998 – 2000. kemudian ia menjadi Pengusaha, dengan menjabat Dirut PT. KVA, PT. CPN pada tahun 1997 – 2004. selain itu, Yuddy juga menjadi dosen pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Nasional dan dosen PPS Ilmu Politik UI.

Sementara itu, sepak terjangnya dalam lembaga pemerintahan mencakup Staf Ahli Kapolri pada tahun 1998 – 2001; Anggota MPR RI pada tahun 1998 – 1999; serta menjadi Staf Khusus Wapres pada tahun 2001 – 2003. pengalamannya berorganisasi pun cukup banyak, antara lain menjadi DPP Golkar, Departemen Hukum dan HAM; DPP Golkar, Departemen Pemuda; Dewan Pakar KAHMI; dan Ketua Bidang Litbang Lemkari.

Yuddy Chrisnandi, dinilai cocok memimpin Golkar periode 2009 – 2014, karena banyak orang yang memprediksikannya dapat memperbaiki Partai Golkar dimasa mendatang. Partai besar setingkat Golkar sangat perlu melakukan regenerasi, dan sedikit-sedikit mulai meminimalisasi faktor konservasi yang lekat dengan Golkar supaya menjadi lebih baik di masa mendatang.

Menjadi kandidat ketua umum Golkar juga mendongkrak publisitas Yuddy sehingga tidak kalah dengan kandidat lainnya. Sejauh ini dirinya banyak diberitakan di sejumlah media online, seperti jawapost, detikyogyakarta.net, kompas.com, okezone.com.

Diperkirakan dua kandidat utama yang akan bersaing dalam perebutan suara adalah Surya Paloh dan Aburizal Bakrie. Persaingan terasa kentara lantaran masing-maing kandidat di dukung media televisi miliknya sendiri, seperti MetroTV milik Surya Paloh dan TVone milik Aburizal. Penonton seperti disuguhkan persaingan antara dua stasiun tv swasta tersebut. Satu sama lain saling menyerang, hanya saja kasus Lumpur Lapindo yang melibatkan Aburizal Bakrie tentu tidak menguntungkan. Sudah seharusnya Golkar dipimpin oleh orang yang terbebas dari persoalan hukum. Dan dengan bersih dari hukum, Surya Paloh dianggap bisa membuat Golkar berkembang dan memperjuangkan kepentingan rakyat.

Sementara Tommy Soeharto dan tim suksesnya lebih fokus mengikat dukungan DPD I dan DPD II dengan menggelontorkan sejumlah uang, yang disalurkan dalam bentuk kegiatan-kegiatan yang diarahkan pada ekonomi kerakyatan. Mulai pembentukan koperasi untuk rakyat kecil hingga pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan pertanian modern. Dengan sokongan dari kubu Cendana Tommy juga bisa memaksimalkan publisitasnya melalui media, seperti media-media di bawah MNC group.